Di bawah langit yang menelan biru,
awan menggantung seperti ragu,
dan senja mengintip malu
di sela pepohonan yang tak bersuara.
Lampu-lampu menyala pelan,
bukan karena gelap,
tapi karena waktu ingin pulang.
Ruko-ruko bisu di sisi jalan,
menyimpan dengung hari yang perlahan padam.
Plang tua berayun lirih,
seperti kenangan yang belum pergi.
Angin sore melintas tanpa suara,
membelai kabel-kabel yang bersilang
seperti garis kehidupan
yang saling terkait,
namun tak pernah benar-benar bertemu.
Ada kendaraan yang pulang,
ada yang baru berangkat,
dan aku berdiri di tepi jalan,
menunggu sesuatu yang tak pernah pasti—
mungkin cahaya,
mungkin kamu.
