Kata-kata pekat—
menggumpal di rongga senja,
tersapu hijau yang merayap:
akar yang retak, sungai yang berbisik,
dan bayang-bayang yang merangkak
dari mulut bumi.
Lalu kiamat datang diam-diam:
langit pecah seperti kaca,
waktu tersangkut di antara gigi.
Kita—
cuma coretan arang di dinding fana,
terhapus sebelum sempat terbaca.
Sesuatu yang tak tersirat
mengendap di sela-sela huruf:
mungkin rindu, mungkin abu,
atau hanya angin
yang bermain api di kegelapan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.