Puisi

  • Jalan Menuju Senja

    Jalan Menuju Senja

    Di bawah langit yang menelan biru,
    awan menggantung seperti ragu,
    dan senja mengintip malu
    di sela pepohonan yang tak bersuara.

    Lampu-lampu menyala pelan,
    bukan karena gelap,
    tapi karena waktu ingin pulang.

    Ruko-ruko bisu di sisi jalan,
    menyimpan dengung hari yang perlahan padam.
    Plang tua berayun lirih,
    seperti kenangan yang belum pergi.

    Angin sore melintas tanpa suara,
    membelai kabel-kabel yang bersilang
    seperti garis kehidupan
    yang saling terkait,
    namun tak pernah benar-benar bertemu.

    Ada kendaraan yang pulang,
    ada yang baru berangkat,
    dan aku berdiri di tepi jalan,
    menunggu sesuatu yang tak pernah pasti—
    mungkin cahaya,
    mungkin kamu.

  • Sembuh

    Sembuh

    kau terbaring seperti buku
    yang baru setengah terbaca.
    di kamar ini, waktu menitik
    dari selang infus—
    setiap tetes: biji matahari
    yang kutabur di telapak doa.

    kursi di sampingmu
    mulai mengingat bentuk tubuhmu.
    nanti, ketika kau duduk kembali,
    akan kusebut itu keajaiban
    yang tak perlu dijelaskan.

    di luar jendela, hujan
    menjahit bumi dengan benang perak.
    kudengar bisiknya:
    “luka adalah tempat
    cahaya masuk.”

    lilin kecil di sudut kamar
    menari bersama bayang-bayang.
    mereka bergerak seperti tangan ibumu
    yang masih berlatih melepaskan—
    tapi tidak sekarang,
    belum sekarang.

    katakan, sahabat,
    apakah sakit itu hanya kata lain
    untuk menunggu kuat?
    aku akan tetap di sini,
    menjadi tanah tempat kakimu
    ingin berpijak lagi.

    pagi datang diam-diam.
    kubuka jendela,
    angin membawa kabar:
    “kesabaran adalah daun
    yang tumbuh pelan-pelan
    di pohon yang hampir patah.”

  • Yang Tak Tersirat

    Yang Tak Tersirat

    Kata-kata pekat—
    menggumpal di rongga senja,
    tersapu hijau yang merayap:
    akar yang retak, sungai yang berbisik,
    dan bayang-bayang yang merangkak
    dari mulut bumi.

    Lalu kiamat datang diam-diam:
    langit pecah seperti kaca,
    waktu tersangkut di antara gigi.
    Kita—
    cuma coretan arang di dinding fana,
    terhapus sebelum sempat terbaca.

    Sesuatu yang tak tersirat
    mengendap di sela-sela huruf:
    mungkin rindu, mungkin abu,
    atau hanya angin
    yang bermain api di kegelapan.