Heru

  • Anotasi Bibliografi: Panduan Komprehensif untuk Penulisan Akademik

    Anotasi Bibliografi: Panduan Komprehensif untuk Penulisan Akademik

    Anotasi bibliografi merupakan komponen penting dalam penulisan akademik yang sering kali diabaikan oleh para peneliti pemula. Artikel ini menyajikan penjelasan komprehensif tentang anotasi bibliografi, mulai dari pengertian, tujuan, struktur, hingga cara pembuatannya, untuk membantu para akademisi dan penulis ilmiah mengembangkan keterampilan dalam mengorganisasi dan mengevaluasi sumber-sumber referensi mereka.

    Pengertian Anotasi Bibliografi

    Anotasi bibliografi adalah ringkasan singkat atau evaluasi dari beberapa sumber bacaan yang saling berkaitan untuk membantu mempelajari suatu topik penelitian[1]. Secara lebih detail, anotasi bibliografi dapat didefinisikan sebagai daftar sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian yang disertai dengan ringkasan dan evaluasi dari setiap sumber tersebut[2]. Berbeda dengan bibliografi biasa yang hanya memuat informasi bibliografi seperti penulis dan judul, anotasi bibliografi menyertakan keterangan tambahan berupa ringkasan isi dan evaluasi kritis terhadap sumber yang dikutip[3].

    Menurut Russel et al. (2010), bibliografi diartikan sebagai sebuah sumber (buku, jurnal, situs web, majalah, poster, dan lain sebagainya) yang digunakan untuk meneliti topik kajian tertentu, sedangkan anotasi diartikan sebagai ringkasan dan/atau evaluasi[3]. Dengan demikian, bibliografi beranotasi berisi ringkasan-ringkasan kajian yang satu tema dari berbagai sumber bacaan.

    Tujuan dan Manfaat Anotasi Bibliografi

    Tujuan Anotasi Bibliografi

    Anotasi bibliografi memiliki beberapa tujuan penting dalam penelitian dan penulisan akademik:

    1. Memberikan gambaran ringkas tentang isi sumber referensi agar pembaca cepat memahami inti dari sumber tersebut[4].
    2. Mempermudah pembaca dalam menemukan referensi yang sesuai dengan kebutuhannya[4].
    3. Membantu peneliti mengorganisasi sumber-sumber mereka dan menunjukkan pemahaman mereka tentang literatur pada topik tertentu[2].
    4. Sebagai referensi dalam menyusun kajian ilmiah[4].
    5. Membantu pembaca menilai relevansi suatu sumber terhadap topik yang dipelajari sebelum membacanya secara mendalam[4].

    Manfaat Anotasi Bibliografi

    Anotasi bibliografi memberikan sejumlah manfaat praktis bagi peneliti dan pembaca:

    1. Membantu pembaca menemukan informasi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhannya[4].
    2. Menghemat waktu dan tenaga karena tidak perlu membaca keseluruhan sumber untuk mengetahui relevansinya[4].
    3. Memungkinkan akses cepat dan mudah terhadap informasi vital mengenai sumber-sumber yang tersedia[5].
    4. Membantu peneliti melacak sumber-sumber yang telah mereka konsultasikan[2].
    5. Menyediakan sarana untuk mengevaluasi kualitas dan relevansi sumber-sumber referensi[2].
    6. Membantu pengunjung perpustakaan dengan mudah menemukan koleksi yang dibutuhkan berkat adanya uraian keterangan isi suatu koleksi[5].

    Struktur Umum Anotasi Bibliografi

    Struktur anotasi bibliografi umumnya mengikuti pola tertentu yang terdiri dari beberapa komponen penting. Berdasarkan pedoman dari University of New England yang dikutip dalam Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI Tahun 2015, struktur umum anotasi bibliografi terdiri dari komponen berikut[6]:

    1. Detail sumber kutipan (deskriptif): Penulisan referensi dengan gaya selingkung tertentu seperti APA, MLA, atau Chicago.
    2. Pernyataan singkat (deskriptif): Mengenai fokus utama atau tujuan penulisan buku atau sumber bacaan tertentu.
    3. Ringkasan (deskriptif): Teori, temuan penelitian, atau argumen yang dimuat dalam sumber.
    4. Pertimbangan (evaluatif): Terkait kelebihan atau kekurangan yang dimiliki sumber bacaan tersebut dari segi kredibilitas penulis, argumen yang disampaikan, dll.
    5. Komentar evaluatif (evaluatif): Terkait bagaimana hasil kajian dari sumber yang dibaca dapat sejalan dan berguna bagi penelitian yang sedang dilakukan.

    Menurut Smodin, anotasi biasanya berupa satu paragraf yang terdiri dari sekitar lima hingga tujuh kalimat yang mencakup konteks penelitian dan evaluasi[7].

    Jenis-jenis Anotasi Bibliografi

    Berdasarkan karakteristik dan tujuannya, anotasi bibliografi dapat dibagi menjadi beberapa jenis[5]:

    1. Bibliografi Deskriptif-Enumeratif

    Jenis ini hanya menyebutkan satu per satu karakteristik fisik buku dan memberikan uraian ringkas dari isi bukunya[5]. Fokusnya adalah pada penjelasan objektif tentang apa yang disampaikan dalam sumber tanpa penilaian kritis.

    2. Bibliografi Deskriptif-Analitis

    Selain mengemukakan karakteristik fisik buku, jenis ini memberikan uraian yang lebih rinci tentang isi buku, terutama tentang aspek-aspek pokok yang dibahas secara ringkas dan komprehensif[5].

    3. Bibliografi Deskriptif-Evaluatif

    Hampir sama dengan bibliografi deskriptif-analitis, namun jenis ini menambahkan formulasi anotasi yang memberikan petunjuk tentang tingkat kegunaan atau manfaatnya, jenis tingkat pembacanya, dan keterangan lainnya[5].

    Dalam konteks yang lebih luas, anotasi juga dapat dibedakan menjadi anotasi deskriptif yang memberikan ringkasan atau gambaran umum tentang konten, dan anotasi evaluatif yang melibatkan penilaian kritis terhadap konten, termasuk kekuatan dan kelemahan karya[8].

    Cara Membuat Anotasi Bibliografi

    Pembuatan anotasi bibliografi melibatkan beberapa tahapan dan memperhatikan beberapa aspek penting:

    Langkah-langkah Pembuatan Anotasi Bibliografi

    1. Pengenalan dokumen: Penelusuran terhadap sumber-sumber yang relevan dengan topik penelitian[5].
    2. Pencatatan data: Meliputi nama pengarang, judul, impresum (kota terbit, penerbit, dan tahun terbit), kolasi (jumlah halaman dan tinggi buku), anotasi, dan kata kunci[9].
    3. Pengetikan dan penyusunan: Sumber-sumber disusun berdasarkan urutan abjad nama pengarang yang dibalik namanya[9].
    4. Pembuatan anotasi: Untuk masing-masing sumber sebagai gambaran isi mengenai informasi yang ada pada sumber tersebut[9].

    Format Penulisan Anotasi Bibliografi

    Dalam pengetikan naskah bibliografi, ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan[5]:

    1. Jenis huruf: Biasanya menggunakan Times New Roman dengan ukuran 12.
    2. Jarak spasi: Jarak antara ketikan adalah 1 spasi, sedangkan jarak antara bibliografi yang pertama dengan yang kedua adalah 2 spasi.
    3. Standar penulisan: Mengikuti International Standard Bibliographic Description (ISBD) yang ditetapkan oleh International Federation of Library Associations and Institutions (IFLA).

    Komponen Penting dalam Anotasi

    Saat menulis anotasi, pastikan untuk menyertakan komponen-komponen berikut[2][7]:

    1. Kutipan: Mengikuti gaya kutipan tertentu seperti APA, MLA, atau Chicago.
    2. Ringkasan: Poin-poin utama atau argumen dari sumber, termasuk tesis penulis, metode yang digunakan, dan kesimpulan.
    3. Evaluasi: Penilaian terhadap kredibilitas penulis, keandalan data, relevansi sumber dengan pertanyaan penelitian, dan keterbatasan atau bias.
    4. Relevansi: Bagaimana sumber tersebut berkontribusi pada penelitian yang sedang dilakukan.

    Contoh Anotasi Bibliografi

    Berikut adalah contoh anotasi bibliografi artikel jurnal[1]:

    Sivadas, E. & Johnson, M. S. (2005). Knowledge flows in marketing: An analysis of
    journal article references and citations. Marketing theory articles, 5(4), 339-361.
    doi: 10.1177/1470593105058817.

    Beranjak dari kekhawatiran para ahli terhadap kualitas karya ilmiah di bidang pemasaran,
    Sivadas dan Johnson membuat sebuah artikel sepanjang 23 halaman yang menyajikan hasil
    penelitian mengenai arus pergerakan ilmu pemasaran dalam delapan jurnal terkait bidang
    pemasaran dan konsumen, antara lain Journal of Marketing, Journal of Marketing Research,
    Journal of Consumer Research, Marketing Science, Journal of Advertising, Journal of
    Advertising Research, Journal of Retailing, dan Industrial Marketing Management.

    Contoh di atas menunjukkan kutipan sumber dalam format standar, diikuti dengan ringkasan singkat yang menjelaskan fokus dan cakupan penelitian.

    Penggunaan Anotasi Bibliografi dalam Penelitian dan Akademik

    Anotasi bibliografi memiliki peran penting dalam berbagai konteks akademik dan penelitian:

    Dalam Penelitian Ilmiah

    Bibliografi beranotasi biasanya digunakan dalam penelitian dan penulisan akademis, karena bibliografi beranotasi menyediakan cara bagi peneliti untuk mengorganisasi sumber-sumber mereka dan menunjukkan pemahaman mereka tentang literatur pada topik tertentu[2]. Dalam proses penelitian, anotasi bibliografi membantu peneliti untuk:

    1. Mengorganisasi literatur: Tahapan pada mengorganisasi literatur adalah mencari ide, tujuan umum, serta simpulan dari literatur dengan cara membaca abstrak, beberapa paragraf pendahuluan, serta kesimpulannya, dan mengelompokkan literatur berdasarkan kategori tertentu[10].
    2. Sintesis: Menyatukan hasil organisasi literatur menjadi suatu ringkasan agar menjadi satu kesatuan yang padu, dengan mencari keterkaitan antar literatur[10].
    3. Identifikasi: Mengidentifikasi isu-isu kontroversi dalam literatur[10].

    Dalam Tugas Akademik

    Bagi mahasiswa, anotasi bibliografi sering menjadi bagian dari tugas akademik. Tugas mengkaji dan mencari referensi sebagai bahan memperkuat hasil penelitian sangat dibutuhkan[3]. Pembuatan anotasi bibliografi membantu mahasiswa untuk:

    1. Memanajemen referensi: Menghindari kesulitan dalam menemukan file yang dibutuhkan ketika referensi disimpan secara acak[3].
    2. Mengintegrasikan berbagai sumber: Mengatasi masalah mengutip yang mengabaikan aspek keterkaitan antara referensi satu dengan referensi yang lain, sehingga tulisan tidak terkesan parsial[3].
    3. Mengelompokkan referensi: Membuat anotasi bibliografi sesuai dengan tema kajian yang akan diteliti[3].

    Kesimpulan

    Anotasi bibliografi merupakan komponen penting dalam penelitian dan penulisan akademik yang menyediakan ringkasan dan evaluasi dari sumber-sumber yang digunakan. Berbeda dengan bibliografi biasa, anotasi bibliografi memberikan pembaca gambaran lebih mendalam tentang isi dan kualitas sumber, membantu mereka menilai relevansi sumber terhadap penelitian yang sedang dilakukan.

    Struktur anotasi bibliografi umumnya mencakup detail sumber kutipan, pernyataan singkat tentang fokus utama, ringkasan teori atau argumen, serta evaluasi kritis terhadap sumber. Tergantung pada tujuannya, anotasi bibliografi dapat bersifat deskriptif, analitis, atau evaluatif.

    Dalam era informasi yang melimpah saat ini, kemampuan untuk mengorganisasi, meringkas, dan mengevaluasi sumber-sumber informasi secara efektif menjadi keterampilan yang sangat berharga. Anotasi bibliografi tidak hanya bermanfaat bagi pembaca dalam menemukan informasi yang relevan, tetapi juga bagi peneliti dalam mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang literatur yang mereka teliti.

    Dengan memahami konsep, tujuan, struktur, dan cara pembuatan anotasi bibliografi, para akademisi dan penulis ilmiah dapat meningkatkan kualitas penelitian mereka dan memberikan kontribusi yang lebih bermakna pada bidang keilmuan mereka.

    Daftar Referensi

    1. https://id.scribd.com/document/612654017/10-Anotasi-Bibliografi-1 
    2. https://mindthegraph.com/blog/id/apa-yang-dimaksud-dengan-bibliografi-beranotasi/     
    3. http://samsarif.blogspot.com/2016/01/menulis-anotasi-bibliografi.html     
    4. https://kumparan.com/seputar-hobi/anotasi-buku-pengertian-tujuan-dan-manfaatnya-24SjHtpkTOY     
    5. https://media.neliti.com/media/publications/327817-bibliografi-beranotasi-tugas-akhir-jurus-f8e4860a.pdf       
    6. https://psikologi.upi.edu/wp-content/uploads/2017/08/10ab3-pedoman-penulisan-karya-ilmiah-upi-tahun-2016.pdf
    7. https://smodin.io/blog/id/how-to-write-an-annotated-bibliography/ 
    8. https://www.liputan6.com/feeds/read/5833834/apa-itu-anotasi-pengertian-jenis-dan-manfaatnya
    9. https://media.neliti.com/media/publications/327815-penyusunan-bibliografi-beranotasi-seri-b-61dd8aad.pdf  
    10. http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/6989/3/Chapter 2.pdf  
  • Teori Keadilan (Equity Theory): Konsep, Pengembangan, dan Aplikasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

    Teori Keadilan (Equity Theory): Konsep, Pengembangan, dan Aplikasi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

    Teori keadilan atau equity theory merupakan salah satu konsep penting dalam manajemen sumber daya manusia yang berfokus pada keadilan dalam hubungan kerja. Meskipun pertanyaan merujuk pada teori keadilan dari Fisher, perlu diklarifikasi bahwa berdasarkan literatur yang tersedia, teori keadilan yang dikenal luas dalam konteks manajemen sumber daya manusia sebenarnya dikembangkan oleh J. Stacy Adams pada tahun 1963, bukan oleh Fisher. Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang teori keadilan, komponennya, serta aplikasinya dalam praktik manajemen sumber daya manusia modern.

    Pengenalan dan Perkembangan Teori Keadilan

    Teori keadilan (equity theory) pertama kali dikembangkan pada tahun 1963 oleh J. Stacy Adams, seorang psikolog perilaku. Teori ini merupakan salah satu dari beberapa teori motivasi yang fokus pada bagaimana individu mencari keadilan dalam hubungan sosial dan kerja[1][2]. Adams mengembangkan teori ini setelah melakukan beberapa uji di General Electric Company di Crotonville, New York[3].

    Menurut teori ini, karyawan akan berusaha mempertahankan keadilan antara input yang mereka berikan kepada pekerjaannya dan output yang mereka terima, dengan membandingkannya dengan input dan output orang lain[4]. Yang penting untuk dicatat adalah bahwa penilaian karyawan terhadap input dan output orang lain seringkali didasarkan pada persepsi mereka, bukan pada kenyataan yang sebenarnya. Ini berarti bahwa meskipun sebenarnya input dan output yang mereka berikan setara dengan orang lain, jika menurut persepsi mereka hal ini tidak setara, mereka akan kehilangan motivasi[4].

    Komponen-Komponen Utama Teori Keadilan

    Input dan Output

    Teori keadilan berpusat pada dua komponen utama: input dan output.

    Input adalah semua hal yang diberikan dan digunakan oleh seseorang dalam pekerjaannya, termasuk:

    • Usaha
    • Kesetiaan
    • Komitmen
    • Keahlian
    • Keterampilan
    • Adaptibilitas
    • Fleksibilitas
    • Ketekadan
    • Antusiasme
    • Kepercayaan
    • Pengorbanan
    • Dukungan[4]

    Output mencakup semua hal yang diterima karyawan sebagai imbalan, seperti:

    • Gaji
    • Penghargaan intrinsik
    • Keuntungan senioritas
    • Tunjangan
    • Status pekerjaan dan faktor lainnya[5]

    Jenis-Jenis Keadilan

    Dalam konteks teori keadilan, terdapat beberapa jenis keadilan yang perlu diperhatikan:

    1. Keadilan Internal: Membandingkan kompensasi antar jabatan dalam organisasi yang sama[6][7].
    2. Keadilan Eksternal: Membandingkan kompensasi untuk jabatan serupa pada organisasi yang berbeda[6][7].
    3. Keadilan Individual: Menilai keadilan kompensasi antar individu dalam jabatan yang sama pada organisasi yang sama[6][7].
    4. Keadilan Prosedural: Menilai keadilan dalam proses pengambilan keputusan terkait distribusi kompensasi[7].

    Hubungan antara Teori Keadilan dan Motivasi Kerja

    Teori keadilan menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh outcomes yang kita terima untuk input kita dibandingkan dengan outcomes dan input orang lain[8]. Ketika karyawan merasa diperlakukan tidak adil, mereka cenderung mengalami ketidakpuasan yang dapat memengaruhi motivasi dan kinerja mereka.

    Menurut teori ini, ketidakadilan terjadi saat seseorang mempersepsikan bahwa rasio antara input dan output mereka tidak seimbang jika dibandingkan dengan orang lain[5]. Penting untuk dicatat bahwa yang penting bukanlah ketidakadilan aktual, tetapi persepsi ketidakadilan[5].

    Ketika karyawan merasa mendapatkan kompensasi kurang dari yang seharusnya (under-compensation), mereka mungkin akan mengurangi input mereka, seperti mengurangi upaya kerja, menurunkan kualitas, atau bahkan meninggalkan organisasi. Sebaliknya, jika mereka merasa mendapatkan kompensasi lebih dari yang seharusnya (over-compensation), beberapa orang mungkin termotivasi untuk meningkatkan kontribusi mereka[2].

    Aplikasi Teori Keadilan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

    Sistem Kompensasi dan Penghargaan

    Teori keadilan sangat relevan dalam merancang sistem kompensasi dan penghargaan. Sistem kompensasi dasar harus dibuat berdasarkan nilai relatif pekerjaan/jabatan terhadap seluruh jabatan dalam organisasi, dengan memperhatikan keadilan internal, eksternal, dan individual[6].

    Remunasi merupakan salah satu pengeluaran utama dan penting dalam organisasi. Hubungan kerja dibangun berdasarkan prosedur yang digerakkan secara ekonomis di mana input (kemampuan dan kinerja karyawan) ditukar dengan output tertentu (imbalan) yang sesuai dengan kebutuhan karyawan[7].

    Teori ekuitas menunjukkan bahwa karyawan termotivasi karena hasil yang setara dengan input dibandingkan dengan rekan kerja mereka[7]. Imbalan yang diterima karyawan untuk pekerjaan yang mereka lakukan memiliki dampak besar dalam memotivasi karyawan[7].

    Human Capital Management (HCM)

    Teori keadilan juga memiliki peran penting dalam Human Capital Management (HCM) atau Manajemen Modal Manusia. HCM adalah serangkaian proses yang digunakan untuk menarik, merekrut, melatih, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan terbaik untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang[9].

    HCM membantu perusahaan dalam:

    1. Mencocokkan posisi dengan kemampuan karyawan: Membantu mengidentifikasi kekuatan individu dan kompetensi karyawan, sehingga mereka dapat ditempatkan pada posisi yang optimal[9].
    2. Meningkatkan produktivitas dan efisiensi: Dengan berinvestasi dalam pelatihan yang mengembangkan kemampuan khusus, HCM membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi[9].
    3. Meningkatkan ulasan kinerja: HCM mempromosikan keunggulan dengan meningkatkan efektivitas tinjauan kinerja melalui berbagai tingkat penilaian[9].
    4. Memungkinkan perencanaan karir yang lebih baik: HCM membantu karyawan merencanakan karier mereka dengan mengidentifikasi kesenjangan kemampuan melalui pelatihan, survei, dan tinjauan kinerja[9].

    People Equity Model

    Model People Equity merupakan pendekatan yang berkaitan erat dengan teori keadilan. Penelitian menunjukkan bahwa people equity dipengaruhi oleh faktor organisasi, faktor individu, dan faktor pekerjaan. Selanjutnya, people equity juga mempengaruhi niat karyawan untuk tetap bekerja di perusahaan[10].

    Model ini berfokus pada peningkatan sistem SDM dalam organisasi, termasuk pelatihan dan pengembangan, penghargaan, dan pengembangan karir, yang bertujuan untuk meningkatkan people equity dan niat karyawan untuk tetap bekerja[10].

    Dampak pada Inovasi dan Kreativitas

    Teori keadilan juga memiliki implikasi pada inovasi dan kreativitas karyawan. Penelitian menunjukkan bahwa keadilan dalam pemberian penghargaan dapat mempengaruhi kreativitas karyawan dan profitabilitas organisasi[7].

    Dalam konteks ini, teori keadilan mendorong manajemen untuk mengembangkan sistem penghargaan yang adil untuk mempromosikan inovasi di lingkungan kerja. Teori ekuitas Adams mendorong karyawan untuk berinovasi dalam organisasi melalui persepsi keadilan dalam sistem penghargaan[7].

    Cara Meningkatkan Keadilan dalam Organisasi

    Berdasarkan teori keadilan, organisasi dapat mengambil beberapa langkah untuk meningkatkan keadilan dalam praktik manajemen sumber daya manusianya:

    1. Berinvestasi pada karyawan yang ada: Organisasi perlu berfokus tidak hanya pada menarik bakat baru, tetapi juga mengembangkan karyawan yang sudah ada untuk memaksimalkan potensi mereka[9].
    2. Personalisasi human capital management: Mengadopsi pendekatan yang dipersonalisasi dengan memahami kekuatan dan kelemahan individu serta menciptakan lingkungan yang mendorong pengembangan keterampilan dan pengetahuan[9].
    3. Memanfaatkan teknologi: Menggunakan solusi teknologi untuk mendukung pengelolaan sumber daya manusia, meningkatkan pelatihan, komunikasi, dan kolaborasi[9].
    4. Meningkatkan komunikasi: Komunikasi yang lebih baik merupakan kunci untuk meningkatkan keterlibatan karyawan dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang proses human capital management[9].

    Kesimpulan

    Teori keadilan (equity theory) yang dikembangkan oleh J. Stacy Adams memberikan kerangka kerja yang berharga untuk memahami bagaimana persepsi keadilan mempengaruhi motivasi dan perilaku karyawan dalam organisasi. Teori ini berfokus pada keseimbangan antara input yang diberikan karyawan dan output yang mereka terima, serta bagaimana perbandingan dengan orang lain mempengaruhi persepsi keadilan.

    Dalam praktik manajemen sumber daya manusia modern, teori keadilan memiliki aplikasi yang luas, mulai dari merancang sistem kompensasi dan penghargaan yang adil, mengembangkan human capital management, hingga mendorong inovasi dan kreativitas karyawan. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip teori keadilan, organisasi dapat meningkatkan motivasi, kepuasan, dan kinerja karyawan, yang pada akhirnya berkontribusi pada keberhasilan organisasi secara keseluruhan.

    Meski teori keadilan ini umumnya dikaitkan dengan Adams dan bukan Fisher, prinsip-prinsipnya tetap relevan dan dapat diintegrasikan dengan pendekatan manajemen sumber daya manusia lainnya untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih adil dan produktif.

    Daftar Referensi

    1. https://www.ebsco.com/research-starters/politics-and-government/equity-theory
    2. https://accounting.binus.ac.id/2021/11/02/equity-theory/ 
    3. http://fellofello.blogspot.com/2018/04/adams-equity-theory-review.html
    4. https://gambaranbrand.com/yang-penting-harus-adil-adams-equity-theory/  
    5. https://www.sciencedirect.com/topics/economics-econometrics-and-finance/equity-theory  
    6. https://id.scribd.com/document/508601716/PEMBERIAN-KOMPENSASI   
    7. https://www.scirp.org/journal/paperinformation?paperid=119733        
    8. https://learn.saylor.org/mod/book/view.php?id=60415&chapterid=47648
    9. https://kerjoo.com/blog/human-capital-management/        
    10. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7376461/